Things Left Behind - Kim Sae Byoul

Rekomendasi Buku Self Improvement Populer Asal Korea Selatan

Menjelang tahun baru 2023, orang-orang seringkali punyai resolusi atas apa yang menghendaki dicapai. Ingin jadi spesial yang lebih baik, lebih kuat, lebih mapan, atau apa-pun itu, buku pengembangan diri bisa memperkenalkanmu bersama dengan begitu banyak ragam pengalaman para penulis di dalam menyusuri hidup untuk terus mengembangkan diri dalam bermain di situs akun vip slot server myanmar. Buku-buku ini, bisa mempertajam kemampuanmu dan menolong belajar kamu untuk menemukan langkah pandang yang baru.

Buku-buku self-improvement juga bisa membantumu untuk belajar lebih ulang perihal evaluasi diri dan memperoleh bermacam manfaat serta semangat untuk diri sendiri. Melansir web resmi, terdapat anjuran buku pengembangan diri terkenal yang singgah berasal dari negeri Gingseng dan pencetus Korean Wave, Korea Selatan.

1. Things Left Behind – Kim Sae Byoul

Buku self-improvement terkenal Korea yang pertama ini berhasil menginspirasi dibuatnya drama Korea Selatan berjudul Move to Heaven. Buku ini diceritakan langsung oleh seorang pengurus barang-barang peninggalan orang yang telah meninggal dunia.

Menariknya, buku ini mengutarakan begitu banyak ragam kisah nyata layaknya sebab-akibat dan alasan utama dibalik kematian seseorang. Buku ini bisa membuat pembacanya tahu bakal hal-hal perlu yang selama ini terabaikan.

Things Left Behind menggabungkan pengalaman spesial yang bakal membuat pembaca menangis terharu, sekaligus menyadarkan diri betapa berharganya arti kehidupan dan keluarga.

2. Nyaman Tanpa Beban – Kim Suhyun

Hubungan antar manusia tetap butuh keseimbangan. Namun terkadang, sebuah interaksi yang diakui sempurna ternyata tidak dipandang mirip oleh pasangannya. Hal ini bisa berujung renggangnya interaksi hingga selanjutnya saling menyembunyikan perasaan.

Perasaan yang diakui lumrah dan biasa saja tersedia kalanya diakui tidak sopan oleh orang lain. Oleh sebab itu, hal inilah yang membuat rasa percaya diri jadi terkikis. Buku ini mengajarkan pembaca untuk jadi lebih fleksibel sementara meniti hubungan, baik bersama dengan pasangan, keluarga, rekan dan orang-orang di sekitar. Bahwa untuk tetap hidup apa adanya, tanpa perlu risau mendengar ucapan orang sekitar.

3. Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah – Geulbaewoo

Banyak sekali kendala di dalam hidup, tetapi porsi tiap-tiap manusia tahu tidak sama satu bersama dengan yang lainnya. Walaupun kadang-kadang jadi melelahkan dan menyebalkan, setidaknya awali hari bersama dengan senyuman dan tetap mengupayakan lakukan yang paling baik di dalam meniti tiap-tiap kendala yang ada. Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah dikhususkan bagi pembaca yang sedang capek untuk langsung istirahat dan menemukan beberapa hal yang disukai.

Buku ini punyai bermacam kata-kata menarik yang bakal menolong pembaca punyai pandangan yang lebih luas terhadap diri sendiri.

4. Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti? – Kim Sang Hyun

Hidup tetap punyai bermacam macam masalah yang tidak bakal tersedia habisnya. Semakin panjang hari-hari yang dijalani, maka jadi banyak masalah pula yang perlu dihadapi. Hal inilah yang membuat penulis buku Kim Sang Hyun bertanya, siapakah seseorang yang singgah ke pemakamannya sementara ia telah meninggal dunia nanti?

Buku ini merupakan catatan kecil sang penulis yang tetap mengupayakan untuk hidup sedikit lebih baik, sedikit lebih bahagia, dan sedikit lebih sejahtera. Kim Sang Hyun menuliskannya bersama dengan style bahasa yang menenangkan dan menghangatkan.

Ia berhasil menambahkan hiburan dan kekuatan bagi pembaca supaya terus tumbuh dan mengupayakan di dalam meniti hidup, meraih mimpi, dan menangani rasa kecewa serta bermacam masalah hidup sehari-hari yang tidak bakal dulu berhenti.

5. I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki – Baek Se Hee

Masalah yang kerap kali singgah tanpa henti membuat kewalahan dan kelimpungan manusia untuk mencari solusinya. Namun, tersedia pula yang pilih untuk mengakhiri hidupnya demi mengakhiri masalah yang ada. Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman Baek Se Hee yang mengalami gangguan kesegaran mental apalagi menghendaki mengakhiri hidupnya. Namun, Se Hee tetap rela makan Tteokpokki yaitu makanan berasal dari kue beras khas Korea Selatan.

Buku ini hadir sebagai solusi dan jadi semangat supaya pembaca tidak menyerah. Masalah bakal tetap singgah hingga kapanpun, maka manusia tidak boleh lari berasal dari kenyataan. Manusia perlu berani menghadapi masalah untuk hidup yang lebih cerah di jaman depan. Buku ini merupakan esai yang memuat pertanyaan, penilaian, saran, nasihat dan evaluasi diri yang mempunyai tujuan supaya pembaca bisa terima dan mencintai diri sendiri.

I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki bakal menambahkan uluran tangan dan pelukan hangat bagi pembacanya supaya bisa terus hidup dan bertahan di sedang kerasnya dunia.