Temuan yang Merubah Dunia: Buku, Sumber Acuan Pengajaran

Hari ini, 2 Mei, selalu diperingati sebagai Hari Pengajaran Nasional (HARDIKNAS) di Indonesia. Salah satu hal yang tidak dapat dilepaskan dalam dunia pendidikan adalah buku. Buku, sebagai bentuk sistem pencatatan menciptakan seluruh ilmu pengetahuan dapat didokumentasikan. Buku juga menjadi tonggak perkembangan penulisan dan berjenis-jenis penemuan kreatif lain seperti kertas, tinta, sampai percetakan. Namun, sesungguhnya sejak kapan buku ada? Merunut pada sejarah, buku yang kita ketahui hari ini bermula dari tablet prasasti, gulungan, sampai lembaran papyrus. Berikutnya, lembaran lontar yang diikat juga muncul sebagai naskah kuno lalu berkembang menjadi buku masa sekarang.

Dalam sejarah panjangnya, salah satu sistem dokumentasi artikel pertama adalah tablet prasasti dari tanah liat. Benda ini diaplikasikan di Mesopotamia pada milenium ke-3 sebelum masehi. Untuk menulis di atas tablet tanah liat, orang mengukirnya ketika tablet masih berair dan baru saja disusun. Berikutnya, tablet yang sudah diberikan artikel akan dibakar untuk mengeringkannya. Sama https://www.madaboutrh.com/ seperti buku-buku ketika ini, 20.000 tablet ditemukan sebagai arsip di perpustakaan kerajaan Asyur pada abad ke-7 SM. Hingga abad ke-19, tablet masih diaplikasikan di berjenis-jenis belahan dunia. Namun, bentuk dokumentasi yang mirip kertas pertama kali adalah gulungan. Di Mesir kuno, salah satu bentuk buku pertama adalah gulungan. Benda ini adalah naskah yang digulung dan terbuat dari tanaman Papyrus. Sayangnya, bahan dari tanaman papyrus mudah retak dan membikin dokumentasi artikel rusak. Namun menulis di papyrus tidak dapat sembarangan. Artikel yang dicatat pada benda ini adalah artikel suci. Ini terbukti dari banyak teks papyrus berasal dari kuburan, daerah doa, sampai pemyimpanan teks suci lainnya. Papyrus sendiri adalah bukti pertama dari buku-buku kerajaan Mesir kuno. Sebelum mengetahui kertas, orang juga mencatat berjenis-jenis hal pada tulang binatang, kerang, kayu, sampai kain sutra. Hal ini biasa dijalankan di China pada abad ke-2 SM. Kebiasaan ini stop ketika kertas mulai ditemukan pada abad pertama masehi. Percetakan buku pertama diawali sekitar tahun 618 sampai 907 masehi di China. Buku tertua yang masih ada sampai sekarang adalah karya berjudul Sutra Intan dari tahun 868 masehi. Karya hal yang demikian dicetak dengan sistem balok kayu, adalah ketika teks yang akan dicetak diukir pada permukaan kayu. Sayangnya, pengerjaan ini memakan waktu lama. Walaupun demikian hal ini menandai perkembangan percetakan buku di dunia.

Sesudah mengaplikasikan balok kayu, orang China juga mencoba mengaplikasikan cetakan tanah liat. Namun, cetakan ini dapat saja pecah. Untuk menghindari itu, orang Korea mulai mengoptimalkan cetakan dari perunggu. Walaupun sistem Korea ini dianggap yang terbaik, tetapi penyebaran percetakan buku ke dunia diawali oleh Johannes Gutenberg. Tahun 1450, Gutenberg mengaplikasikan keterampilan pengerjaan logamnya untuk mendesain mesin cetak yang lebih metodis. Gutenberg Bible adalah buku pertama yang diproduksi massal olehnya tanpa di salin dengan tangan. Dengan ditemukannya mesin cetak, tingkat melek huruf mulai berkembang. Bermacam buku mulai menjadi referensi pelajaran lebih lanjut yang populer. Berikutnya, buku dicetak sesuai permintaan pasar. Sekarang, buku cetak mulai beralih pada bentuk lain adalah digital. Penerapan mode digital ini memudahkan akses serta mengurangi penggunaan kertas.